5 Kesalahan Orang Tua Dalam Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

dana pendidikan

Memberikan pendidikan terbaik bagi anak adalah impian semua orang tua. Tapi kenyataannya banyak yang gagal dalam mempersiapkan dana pendidikan bagi mereka. Berikut adalah lima kesalahan umum yang dilakukan oleh orang tua dalam mempersiapkan dana pendidikan anak mereka:

  1. Tidak mempersiapkan dana pendidikan sejak dini. Karena jumlah biaya pendidikan yang sangat mahal, seharusnya orang tua sudah mulai mempersiapkan dana pendidikan bagi anaknya sejak anak baru lahir atau bahkan sebelum anak lahir.
  2. Tidak konsisten dalam menabung. Tabungan pendidikan seharusnya disetorkan secara rutin setiap bulan hingga anak memasuki masa sekolah atau kuliah, sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
  3. Tabungan kurang. Seharusnya orang tua meminta bantuan perencana keuangan untuk menghitung berapa kebutuhan biaya kuliah untuk anaknya sesuai dengan kualitas sekolah yang diinginkan.
  4. Tabungan tidak diasuransikan. Tabungan pendidikan selayaknya dilindungi terhadap resiko hilangnya kemampuan menabung orang tua ketika mereka meninggal dunia atau sakit kritis.
  5. Tabungan dimasukkan dalam investasi yang memberikan hasil terlalu rendah. Tabungan pendidikan tergolong investasi jangka panjang. Pilihlah investasi jangka panjang yang dapat memberikan imbal hasil lebih baik dibandingkan deposito atau tabungan di bank seperti reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana saham.

Indra Hadiwidjaja, CFP®

indra@rencanakeuangan.com

Asap Dapur Picu Kanker Nasofaring

Beberapa tahun yang lalu, seorang keluarga saya tiba2 terdiagnosa kanker nasofaring dan setelah menjalani pengobatan di dalam dan luar negeri, akhirnya harus menyerah dan meninggal dunia. Tidak ada yang tahu penyebabnya, karena beliau tidak merokok dan juga rutin berolah raga. Dan baru saja saya menemukan artikel ini…

 

Indonesia termasuk negara dengan kondisi dapur yang buruk selain Malaysia dan Pakistan. Bahkan, cara memasak orang Indonesia yang banyak menghasilkan asap sama seperti di Tiongkok 20 tahun silam. Memasak di dapur modern dengan peralatan canggih sekalipun tak luput dari bahaya asap. Pasalnya, asap dapur mengandung gas karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen dioksida (NO2).

Lula Kamal, artis yang juga seorang dokter, mengatakan ketiga jenis gas itu dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan atau penyakit seperti pneumonia hibgga kanker paru. Bahkan, meski terlihat sepele, asap dapur tidak lebih baik daripada asap rokok.

“Bahaya asap dapur yang setiap hari dihirup itu sama dengan membakar 1000 batang rokok di dapur Anda selama sejam. Asap itu menimbulkan oksidan yang bisa menyebabkan mutasi sel akibat sisa pembakaran, sehingga asap otu tidak harus diisap,” ujarnya saat diskusi tentang bahaya asap dapur di Jakarta, Kamis (7/5).

Hansen Christian, direktur Fotile Indonesia, mengutarakan cara mencegah bahaya asap bisa dengan menciptakan dapur dengan ventilasi udara yang baik agar sirkulasi udara lancar.

Dikutip dari: Harian Media Indonesia 13 Mei 2015

 

Beda Orang Goblok dan Orang Pintar by Bob Sadino

Bob Sadino

Beberapa quotes dari Bob Sadino (09/03/1933 – 19/01/2015)

“Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain.”

“Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya.”

“Orang pintar kebanyakan ide & akhirnya tidak ada satupun yg jadi kenyataan. Orang goblok cuma  punya 1 ide, dan itu jadi kenyataan.”

“Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat dan jika untung maka bertambahlah syukur saya!”

“Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yg memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif.”

“Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar.”

“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.”

“Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir.. melangkah saja, ngapain mikir kan cuma selangkah.”

“Orang goblok itu nggak banyak mikir, yg penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah.”

“Orang pintar maunya cepet hasil, padahal semua orang tau itu impossible! Orang goblok cuma punya 1 harapan: hari ini bisa makan.”

“Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok berjuang keras untuk sukses biar bisa bayar para pelamar kerja.”

Selamat jalan Om Bob Sadino


Bambang Mustari Sadino (lahir di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung), 9 Maret 1933 – meninggal di Jakarta19 Januari 2015 pada umur 81 tahun) atau akrab dipanggil Bob Sadino, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kem Food dan Kem Chicks. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat santai dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya sehari-hari.

Menjadi Konsultan, bukan Agent Asuransi

Menjadi konsultan meningkatkan rasio closing hingga 200%!

Menjadi konsultan meningkatkan rasio closing hingga 200%!

 

Hari ini ada seorang agent asuransi baru yang bertanya kepada saya: ‘Pak, ada seorang prospek yang sudah mau ambil asuransi jiwa sama saya. Dia bertanya berapa premi minimal dan apa saja yang akan didapatkannya kalau dia ambil program itu?’.

Sebagai seorang agent baru pasti akan sering mendapati pertanyaan seperti ini, tapi kalau kita tanyakan pada agent senior kemungkinan mendapati pertanyaan seperti ini akan lebih sedikit. Hal ini dapat terjadi karena agent baru biasa menganggap profesi agent asuransi adalah profesi ‘menjual’ asuransi, sementara agent senior menganggap profesinya adalah ‘konsultan’ asuransi.

Apa bedanya sih, jualan asuransi sama konsultan asuransi?

Saya analogikan seperti ini:

mqdefaultAlkisah ada seorang pria bersama istri dan dua anaknya (tentu saja disertai juga dengan dua babysitter, sesuai ciri khas orang Indonesia ;-)) datang ke sebuah supermarket mobil yang menjual ratusan macam mobil baru. Mulai dari mobil yang harganya puluhan juta (soalnya pemerintah baru mengeluarkan kebijakan menjual mobil murah) hingga miliaran rupiah. Keluarga ini datang dan melihat-lihat sekeliling. Kemudian mereka didatangi oleh salesman dari supermarket mobil tersebut dan sang salesman menyapa mereka.

Setelah berkenalan, sang pria bertanya ‘Mana mobil yang paling murah?’. Sang salesman pun dengan semangat mengantarkan mereka ke tempat penjualan mobil termurah mereka yang harganya hanya 23 juta saja. Mobil tersebut bermesin 500 cc, memiliki 4 tempat duduk, tanpa AC, tanpa power window, power steering, central lock, dan segala fasilitas lainnya. Pokoknya mirip sebuah kotak berisi 4 tempat duduk yang bermesin dan rodanya bisa berputar.

Melihat mobil tersebut, keluarga tersebut tidak puas dan meminta ditunjukkan mobil-mobil lainnya. Ternyata setelah beberapa jam berkeliling, belum ada yang memuaskan hatinya. Akhirnya mereka bertemu dengan seorang sales senior di supermarket tersebut. Melihat wajah mereka yang kelelahan, maka ia pun mendatangi dan memperkenalkan dirinya.

Sambil ngobrol, sang salesman senior menanyakan apa yang bisa ia bantu. Sang ayah pun kembali menanyakan ‘Mana mobil yang paling murah?’.

Tapi salesman senior ini tidak langsung mengajak mereka ke tempat mobil dipamerkan melainkan bertanya kembali ‘Apakah ini untuk dijadikan mobil pertama Bapak?’, yang dijawab antusias dengan ‘Ya’ oleh mereka semua. Masih belum selesai sampai di situ, sang salesman senior bertanya lagi ‘Apakah mobil ini akan sering digunakan untuk berwisata keluar kota?’, ‘Apakah Bapak lebih senang membeli Premium atau Pertamax?’, ‘Apakah jarak rumah dan kantor Bapak jauh?’, ‘Apakah Bapak senang berkendara cepat atau santai?’, ‘Berapa budget maksimal Bapak untuk mobil ini?’, ‘Apakah Bapak mau ambil cash atau kredit?’, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Setelah mengajukan berbagai pertanyaan tersebut, akhirnya sang salesman senior berkata seperti ini: ‘Pak, saya rasa saya memiliki beberapa mobil yang cocok dengan kebutuhan Bapak. Saya akan tunjukkan beberapa mobil yang muat untuk 7 orang, sesuai dengan profil keluarga Bapak, yang irit bensin dan bisa menggunakan premium bersubsidi, dan cukup nyaman dikendarai untuk keluar kota meskipun untuk dalam kota tidak terlalu nyaman karena tarikan bawahnya agak kurang nyaman untuk kondisi macet. Tapi sepertinya itu tidak terlalu masalah karena lokasi kantor Bapak dekat dengan rumah. Nah ini ada tiga pilihan pak, yang pertama merk X type ABC, atau merek Y type DEF. Harga keduanya sama, yaitu 123 juta. Tapi saya sarankan merek Z type GHI karena meskipun harganya lebih mahal 1 juta tapi sudah dilengkapi dengan fitur keamanan Airbag di kursi belakang sehingga keamanan anak-anak Bapak lebih terjamin.’

Dapatkah Anda melihat perbedaan kedua salesman tersebut?

Belajar. Praktekkan.

Belajar. Praktekkan.

Sebagai seorang Agent Asuransi Profesional, kita juga harus bertindak sebagai seorang konsultan, karena kebanyakan nasabah tidak mengetahui apa asuransi yang mereka butuhkan. Kita harus bisa menggali kebutuhan mereka dan merekomendasikan produk yang paling cocok.

Di masa ini, hampir semua program asuransi sudah ditiru oleh sesama perusahaan asuransi. Jaman dahulu, Prudential hanya mengcover 18 sakit kritis yang ditanggung. Kemudian ada asuransi lain yang mengcover 24, keluar lagi 33, ada lagi 49, lalu dikeluarkanlah program yang mengcover sakit kritis tahap awal sebanyak 79 tahapan kondisi kritis, keluar lagi yang bahkan hingga 112 tahapan kondisi kritis pun ditanggung. Persaingan produk tidak akan ada habisnya.

Industri ini begitu dinamis. Agent asuransi yang bertindak sebagai konsultan tidak akan gentar dengan persaingan produk sesama perusahaan asuransi, karena ia mampu memilih produk dari perusahaannya sendiri yang paling tepat untuk klien nya. Seorang agent tidak menjadi hebat karena produk perusahaannya adalah produk nomer satu. Tapi ia menjadi hebat karena ia bisa menunjukkan bahwa produk perusahaannya adalah produk yang paling cocok dengan kliennya. Karena ia mampu meracik produk tersebut agar sesuai dengan profil dan kebutuhan kliennya.

Nah, pertanyaan seperti apakah kira2 yang perlu diketahui oleh seorang agent asuransi profesional? Berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Apa hal terpenting bagi prospek Anda? Apakah kelangsungan hidup keluarga, perlindungan terhadap sakit kritis, biaya pendidikan anak, biaya naik haji, biaya rumah sakit, dll, dll?
  2. Seberapa berpengaruh kah penghasilannya terhadap kehidupan keluarga tersebut?
  3. Dari mana saja sumber penghasilan mereka, apakah berupa penghasilan aktif (harus bekerja untuk mendapat penghasilan) atau penghasilan pasif (tak perlu bekerja tapi penghasilan ada terus)?
  4. Usia berapa anak yang terkecil (untuk menentukan berapa lama perlindungan keluarga dibutuhkan).
  5. Rencananya anak mau dikuliahkan di mana? Sudah dihitung berapa biayanya? Apakah sudah ada tabungan pendidikan lain (untuk menentukan berapa biaya pendidikan yang masih dibutuhkan).
  6. Kalau masuk RS, mau dirawat di mana? Dalam negeri atau luar negeri? RS Pemerintah atau Swasta? Kamar VIP, kelas 1, kelas 2, atau kelas 3?
  7. Apa yang diharapkan dari membeli sebuah polis asuransi?
  8. Dll, dll, dll…

Dengan memahami apa yang klien inginkan dan butuhkan, maka Anda dapat membantu mereka merencanakan hidup yang lebih baik. Itulah tugas Anda yang sebenarnya. Bukan hanya menjual!

Selamat berkarya, tetap semangat dan teruslah meningkatkan kemampuan Anda di industri ini!

Salam asuransi,

Indra Hadiwidjaja CFP®

Tiga Aturan Dasar Dalam Hidup

Commitment

Kemarin saya bertemu seorang luar biasa, Henry, teman saya yang sekarang memiliki bisnis di Bandung yang bercerita tentang aturan dasar dalam hidup.

Katanya, ada 3 aturan dasar dalam hidup, yaitu:
1. Jika Anda tidak mengejar impian Anda, Anda tidak akan mendapatkannya
2. Jika Anda tidak pernah meminta, maka jawabannya selalu Tidak
3. Jika Anda tidak bergerak, maka Anda akan selalu berada di tempat yang sama

Dalam dunia sales, betapa benar nya aturan tersebut.

Untuk menjadi seorang sales sukses, kita semua perlu untuk membuat goals, mengejarnya, meminta kepada orang yang tepat, dan bergerak bertemu orang setiap hari. Karena itulah hidup begitu luar biasa bagi kita orang sales, karena kita selalu berada di luar.

Jadi di saat kelelahan dan kemalasan datang, ingatlah bahwa untuk sukses ada aturan dasar yang perlu kita lakukan.

Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Anak masuk sekolah

Anak masuk sekolah

Horeeee… Tahun ajaran baru sudah dimulai. Seneng deh lihat status dan profile picture para orang tua yang anak-anaknya baru masuk sekolah. Seragamnya masih mulus dan licin, mata berbinar-binar. Kebanggaan sebagai orang tua yang sudah sukses menyekolahkan anak.

Padahal beberapa bulan lalu… banyak yang status nya galau karena kaget lihat dana pendidikan anak yang mihil bingits (alay mode:on). Banyak juga yang cari pinjaman sana sini, mampir ke pegadaian, sampai ada juga yang memilih sekolah bukan berdasarkan dari kualitas atau jarak, tapi dari harga uang pangkal. Sebenernya ada ngga sih cara untuk menghindari kepanikan ini?

Seharusnya hal seperti ini tidak perlu terjadi seandainya saja para orang tua sudah memulai merencanakan dana pendidikan anak-anak mereka sejak dini. Paling bagus adalah sejak anak baru lahir atau bahkan masih dalam kandungan. Dana pendidikan anak adalah dana yang bisa direncanakan, karena hampir semua anak akan masuk TK usia 4 tahun, SD usia 6 tahun, masuk SMP 12 Tahun, SMA 15 tahun, dan kuliah 18 tahun. Jadi dananya harusnya bisa dihitung dan dipersiapkan.

Gimana cara hitung kebutuhan dana nya? Misalkan kita mau hitung dana pendidikan anak untuk kuliah. Langkah pertama adalah menentukan berapa biaya masuk kuliah di jurusan dan universitas yang kita inginkan tahun ini. Kemudian kita hitung berapa kira-kira kenaikan biaya tersebut setiap tahun. Setelah itu langkah selanjutnya adalah menghitung berapa kira2 biaya yang dibutuhkan 18 tahun yang akan datang.

Misalkan ibu Ani punya anak, Ana yang berusia 2 tahun, dan ia ingin memulai mempersiapkan dana kuliah untuk Ana. Beliau ingin memasukkan Ana ke universitas swasta di Jakarta. Karena itu beliau mendatangi universitas tersebut dan mencari tahu berapa biaya yang dibutuhkan untuk kuliah di sana. Ternyata untuk kuliah di universitas tersebut tahun ini, biayanya sekitar Rp. 100 juta untuk kuliah selama 4 tahun.

Dari berbagai artikel di majalah dan surat kabar, Ibu Ani mengetahui bahwa biaya kuliah setiap tahunnya naik sebesar 10 – 15% setiap tahunnya. Sementara Ana akan kuliah di usia 18 tahun yang artinya adalah 16 tahun dari sekarang. Karena itu ibu Ani dapat menghitung berapa kira-kira biaya kuliah Ana.

Tahun Kenaikan 10% Kenaikan 15%
Tahun ini          100,000,000          100,000,000
1          110,000,000          115,000,000
2          121,000,000          132,250,000
3          133,100,000          152,087,500
4          146,410,000          174,900,625
5          161,051,000          201,135,719
6          177,156,100          231,306,077
7          194,871,710          266,001,988
8          214,358,881          305,902,286
9          235,794,769          351,787,629
10          259,374,246          404,555,774
11          285,311,671          465,239,140
12          313,842,838          535,025,011
13          345,227,121          615,278,762
14          379,749,834          707,570,576
15          417,724,817          813,706,163
16          459,497,299          935,762,087

Nah, ternyata dari hasil perhitungan tersebut ibu Ani harus mempersiapkan sekitar Rp. 460 – 935 juta untuk biaya kuliah Ana. Kalau dibagi 16 tahun, maka setiap bulannya ibu Ani harus menyisihkan sekitar Rp. 2,4 hingga Rp. 5 juta untuk dana pendidikan Ana. Ini dengan asumsi uangnya disimpan di bawah bantal. Jika ditabungkan di bank, maka ibu Ani cukup menyisihkan sekitar Rp. 1,8 – 3,8 Juta. Kalau uangnya didepositokan, cukup sekitar  1,3 – 2,6 juta per bulan. Kalau investasi di reksa dana, pastinya jauh lebih murah lagi.

Selain biaya yang terduga tadi, kita juga perlu memperhitungkan biaya-biaya yang tidak terduga. Tidak ada kontrak dengan Tuhan bahwa kita akan diberikan kesehatan dan kehidupan yang baik hingga anak selesai kuliah bukan? Sebagai manusia, kita semua dapat saja terkena penyakit kritis atau dipanggil ke surga terlebih dahulu bukan… Tapi kita akan bahas masalah tersebut di kesempatan yang lain. Hari ini, materi tentang persiapan dana pendidikan kita selesaikan hingga di sini dulu. Semoga bermanfaat untuk teman-teman sekalian.

Untuk diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana mempersiapkan dana pendidikan anak, tabungan pendidikan, atau asuransi pendidikan dengan biaya lebih murah dan terjamin, boleh japri ke indra@rencanakeuangan.com.

Pemilu 2014

Tidak terasa, besok sudah tiba saatnya Pemilihan Umum 2014 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin Indonesia selama 5 tahun ke depan. Dua kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan bertarung adalah pasangan Prabowo Subianto / Hatta Radjasa dan Joko Widodo / Jusuf Kalla.

Joko Widodo – Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa

Yang menarik dari Pemilu kali ini adalah tingginya animo masyarakat untuk ikut serta dalam memberikan suaranya kepada pilihan mereka. Pemilu di luar negeri telah dilakukan beberapa hari lebih dahulu, dan dilaporkan bahwa antrian untuk memberikan hak suara mencapai ratusan meter. Hal ini menurut saya memberikan gambaran betapa masyarakat merasa memiliki harapan terhadap Pemilu di tahun ini.

Antrian Pemilu di Den Haag (dari twitter @ayovote)

Antrian Pemilu di Sidney (dari twitter @ayovote)

Perang kampanye di media sosial maupun media massa sangat ramai beberapa minggu terakhir ini. Baik itu white campaign berupa program dan pencapaian masing-masing capres ataupun black campaign berupa saling memberitakan kejelekan pihak lawan. Acara debat capres di televisi pun merupakan program yang tak kalah menarik dibandingkan dengan tayangan langsung Piala Dunia 2014 yang sedang berlangsung di Brasil dan saat ini menyisakan empat team sepak bola untuk masuk ke babak final, yaitu: Argentina, Belanda, Brasil, dam Jerman.

 

Sebagai warga Indonesia, saya akan memberikan hak suara saya dengan harapan pilihan ini akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Sudah sekian lama saya merasa tidak memiliki harapan akan Indonesia yang lebih baik karena pengalaman membuktikan bahwa apa yang dikampanyekan dan apa yang dilaksanakan jauh berbeda. Hari ini saya baru membaca sebuah anekdot yang menyatakan bahwa politikus di Indonesia sangat sibuk. Setengah waktu mereka digunakan untuk menyampaikan program-program yang akan dilaksanakan jika mereka terpilih, dan setengah lagi sisanya digunakan untuk menjelaskan mengapa program-program tersebut tidak jadi dilaksanakan.

Saya merasa beruntung dapat merasakan hasil kerja salah seorang calon presiden yang diberi kesempatan untuk memimpin Jakarta selama dua tahun. Selama dua tahun ini saya merasakan banyak perbedaan dan hasil kerja yang nyata, mulai dari pengerukan sampah di sungai-sungai di Jakarta, revitalisasi waduk, pengadaan transportasi umum, dan lain-lain. Benar bahwa Jakarta masih macet dan banjir, tapi saya sadar bahwa masalah Jakarta telah terkatung-katung selama puluhan tahun, tidak mungkin selesai hanya dalam beberapa bulan saja. Tapi yang terpenting adalah apa kerja yang telah dilakukan untuk memperbaiki. Karena saya yakin bahwa segala kerja keras akan ada hasilnya.

Pengerukan sampah di pintu air Manggarai, Desember 2012 (Tribun News)

Normalisasi waduk Pluit (merdeka.com)

 

Sebagai tulisan pertama di blog ini, saya ingin mengajak seluruh penduduk Indonesia untuk memilih calon presiden sesuai dengan keyakinan kita sendiri dan menaruh kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Apapun hasil pemilu ini harus diterima dan dilaksanakan dengan baik sebagai proses demokrasi. Karena pemilu bukanlah ajang untuk berperang melainkan ajang untuk memilih yang terbaik.

 

 

Salam demokrasi! #Jokowi9Juli

21 Kebiasaan untuk Menjadi Kaya

Ketika saya bertanya: ‘Apakah Anda mau kaya?’, maka semua orang akan menganggukkan kepala dan menjawab ‘Ya!’ dengan antusias. Tapi ketika pertanyaan dilanjutkan dengan ‘Apa yang sudah Anda lakukan untuk menjadi kaya?’, kebanyakan akan bingung untuk menjawabnya.

Nah, artikel berikut mungkin berguna bagi Anda yang ingin menjadi kaya. Artikel diambil dari http://insider21.com/wealth-formula-20-top-habits-rich-wealthy/ dan saya coba untuk terjemahkan secara bebas. Semoga berguna…

 

The Wealth Formula: The Top 21 Habits To Becoming Wealthy

Formula Menjadi Kaya: 21 Kebiasaan untuk Menjadi Kaya

21 Statistics that will surprise you about building wealth. Which side of each of this statistics do you fall in?  How do you define wealth?  Can you improve upon your own habits to help generate wealth?
21 Kebiasaan yang mengejutkan mengenai membangun kekayaan. Kebiasaan yang mana yang biasa Anda lakukan? Bagaimana cara Anda mengartikan kekayaan? Dapatkah Anda memperbaiki kebiasaan Anda untuk menciptakan kekayaan?
1. 70% of wealthy eat less than 300 junk food calories per day vs. 97% of the working class.
1. 70% orang kaya memakan kurang dari 300 kalori yang berasal dari makanan cepat saji, sedangkan 97% kelas pekerja melakukannya

 

2. 23% of wealthy gamble vs. 52% of the working class.

2. Hanya 23% orang kaya yang berjudi, sedangkan 52% kelas pekerja melakukannya

 

3. 80% of wealthy are focused on accomplishing some single goal vs. 12% of the working class.
3. 80% orang kaya berfokus pada satu tujuan, sedangkan hanya 12% kelas pekerja yang melakukannya

 

4. 76% of wealthy exercise aerobically 4 days a week vs 23% of the working class.

4. 76% orang kaya berolah raga 4 hari dalam seminggu, sedangkan hanya 23% kelas pekerja yang melakukannya

 

5. 63% of wealthy listen to audio books during commute to work vs. 5% of the working class.
5. 63% orang kaya mendengarkan audio book dalam perjalanan, sedangkan hanya 5% kelas pekerja yang melakukannya
6. 81% of wealthy maintain a to do list vs. 19% of the working class.
6. 81% orang kaya memiliki daftar hal-hal yang harus dilakukan, sedangkan hanya 19% kelas pekerja yang memilikinya

 

7. 63% of wealthy make their children read 2 or more non fiction books a month vs.3% of the working class.

7. 63% orang kaya meminta anak-anaknya membaca minimal 2 buku non fiksi sebulan, sedangkan hanya 3% kelas pekerja yang melakukannya

 

8. 70% of wealthy make their children volunteer 10 hours or more a month vs. 3% of the working class.

8. 70% orang kaya meminta anak mereka melakukan kerja sosial 10 jam atau lebih dalam sebulan, sedangkan hanya 3% kelas pekerja yang melakukannya

 

9. 80% of wealthy made  “HBD” (home, business and deals) calls vs. 11% of the working class. 

9. 80% orang kaya melakukan telepon ‘HBD’ (rumah, bisnis, dan (mencari) kesepakatan), sedangkan hanya 11% kelas pekerja yang melakukannya

 

10. 67% of wealthy write down their goals vs. 17% of the working class. 

10. 67% orang kaya menuliskan tujuan mereka secara jelas, sedangkan hanya 17% kelas pekerja yang melakukannya

 

11. 88% of wealthy read 30 minutes or more each day for education or career reasons vs. 2% of the working class.

11. 88% orang kaya membaca minimal 30 menit per hari untuk alasan pendidikan atau karir, sedangkan hanya 2% kelas pekerja yang melakukannya

 

12. 6% of wealthy say what’s on their mind vs. 69% of the working class.

12. Hanya 6% orang kaya yang selalu mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, sedangkan 69% kelas pekerja melakukannya

 

 13. 79% of wealthy network 5 hours or more each month vs. 16% of the working class.

13. 79% orang kaya mencari koneksi minimal 5 jam setiap bulannya, sedangkan hanya 16% kelas pekerja yang melakukannya

 

14. 67% of wealthy watch 1 hour or less of TV every day vs.23% of the working class.

14. 67% orang kaya hanya menonton TV 1 jam atau kurang setiap harinya, sedangkan hanya 23% kelas pekerja yang melakukannya

 

15. 6% of wealthy watch reality TV vs. 78% of the working class.

15. Hanya 6% orang kaya menonton acara ‘reality show‘ di TV, sedangkan 78% kelas pekerja menontonnya

 

16. 44% of wealthy wake up 3 hours before work starts vs. 3% of the working class.

16. 44% orang kaya bangun tidur 3 jam sebelum pekerjaan dimulai, sedangkan hanya 3% kelas pekerja yang melakukannya

 

17. 74% of wealthy teach good daily success habits to their children vs. 1% of the working class.

17. 74% orang kaya mengajarkan kebiasaan sukses setiap hari kepada anak-anaknya, sedangkan hanya 1% kelas pekerja yang mengajarkannya

 

18. 84% of wealthy believe good habits create opportunity luck vs. 4% of the working class.

18. 84% orang kaya percaya bahwa kebiasaan yang baik menciptakan peluang sukses, sedangkan hanya 4% kelas pekerja yang melakukannya

 

19. 76% of wealthy believe bad habits create detrimental luck vs.9% of the working class.

19. 76% orang kaya percaya bahwa kebiasaan buruk akan menciptakan kerugian, sedangkan hanya 9% kelas pekerja yang mempercayainya

 

20. 86% of wealthy believe in life-long education educational self improvement vs. 5% of the working class.

20. 86% orang kaya percaya pada pendidikan dan pengembangan diri seumur hidup, sedangkan hanya 5% kelas pekerja yang melakukannya

 

 21. 86% of wealthy love to read vs. 26% of the working class.
21. 86% orang kaya senang membaca, sedangkan hanya 26% kelas pekerja yang senang membaca